Kapolda Sultra Minta Maaf Dugaan Pemukulan Wartawan di Kendari

  • Whatsapp
Kapolda Sultra Irjen Yan Sultra Indrajaya

KENDARI, SULAWESION.COM – Kapolda Sulawesi Tenggara (Sultra) menyampaikan permohonan maaf atas dugaan pemukulan salah satu wartawan di Kendari saat meliput aksi unjuk rasa di kantor BLK Kendari, Kamis (18/3/2021) lalu.

Permohonan maaf disampaikan Kapolda Yan Sultra didampingi Wakapolda beserta beberapa pejabat utama saat silaturahmi bersama wartawan di Aula  Dhacara Polda Sultra, Sabtu (20/3/2021).

“Kami selaku pribadi dan kedinasan minta maaf terhadap apa yang terjadi terhadap rekan wartawan,yang dilakukan oleh anggota kami yang terjadi beberapa waktu lalu,” kata Kapolda.

BACA JUGA: Cabuli Dua Ponakan, Warga Wacualea Diamankan Polres Buton Utara

BACA JUGA: Diduga Kelelahan, Ini Kronologi Meninggalnya Bupati Kolaka Timur

BACA JUGA: Pendaftaran CASN Dibuka April, Ada 1,3 Juta Formasi

Kapolda menyampaikan bahwa oknum polisi yang diduga telah melakukan aksi represif akan mendapatkan tindakan tegas. “Nanti kita lihat hasil pemeriksaan, terhadap apa yang dilakukan anggota kami,” ujar kapolda.

Adapun unsur pers hadir perwakilan dari organisasi kewartawanan di bawah konstituen Dewan Pers, seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Sultra, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sultra, serta beberapa media online dan para jurnalis di Sultra.

Sebelumnya, Kapolres Kendari AKBP Didik Erfianto secara terbuka menyampaikan permohonan maaf ke publik atas dugaan tindakan pemukulan yang dilakukan anggotanya terhadap wartawan. “Kami selaku pribadi dan kedinasan minta maaf,” kata Didik.

Dia pun menegaskan personel kepolisian yang terbukti bertindak represif akan mendapatkan sanksi tegas. “Nanti kita lihat hasil pemeriksaan, ada tindakan disiplin. Sanksi-nya nanti dari hasil pemeriksaan,” ujar Didik.

Dikutip Merdeka.com, kasus pemukulan ini terjadi terhadap jurnalis Surat Kabar Harian (SKH) Berita Kota Kendari (BKK), Rudinan (31). Dia mengaku dipukul personel Polres Kendari saat meliput demonstrasi di Kantor BLK Kendari, Kamis (18/3). Unjuk rasa itu menuntut pembatalan hasil lelang pekerjaan bengkel (workshop) las dan otomotif.

Demonstrasi semula berlangsung damai. Pada pukul 11.40 WITA, pihak BLK akan menemui pengunjuk rasa untuk dialog. Namun beberapa saat kemudian, massa adu mulut dengan polisi.

Rudinan yang hendak melakukan peliputan, ditahan dan diminta menunjukkan tanda pengenal jurnalis. Meski sudah menunjukkannya, dia dipukul sejumlah personel kepolisian dari arah belakang. Para pelaku juga mengeluarkan umpatan dengan kata-kata tak patut.

Tindakan represif oknum polisi dari Polres Kendari itu mendapat kecaman keras dari berbagai organisasi profesi, seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sultra, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari, dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sultra. “Menghalangi tugas jurnalis saja sudah pidana. Apalagi sampai ada kekerasan fisik,” kata Koordinator Divisi Advokasi AJI Kendari La Ode Kasman Angkosono.

Koordinator Divisi Advokasi Pengda IJTI Sultra Mukhtaruddin menilai, polisi sebagai penegak hukum harusnya memberikan perlindungan terhadap jurnalis, bukan melakukan tindakan kekerasan atau pemukulan. “Tindakan oknum polisi ini telah mencederai kebebasan pers di Indonesia, menghalangi kerja-kerja jurnalis yang dilindungi undang-undang,” tegasnya. (red)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *